Jumat, 26 September 2014

Resensi Bulan Terbelah di Langit Amerika (Hanum Salsabiela & Rangga Almahendra)



Would the world be better without Islam?”


“My  Name is Khan, and I’m not a terrorist!!! “

Kalimat dari film My Name is Khan secara otomatis muncul di benak saya saat membaca sinopsis Bulan Terbelah di Langit Amerika. Apa hubungannya? Kejadian 11 September 2001 benar-benar mengubah kehidupan umat Muslim di Amerika. Bagaimana tidak? Seluruh umat Muslim dicap sebagai teroris, pesakitan yang harus dijauhi dan diasingkan, dan gejala Islamophobia lainnya (lebih lanjut baca http://en.wikipedia.org/wiki/Islamophobia). Ketatnya pemeriksaan di bandara, penangkapan orang-orang dengan nama yang dicurigai sebagai teroris, dan larangan untuk masuk ke negara Adidaya tersebut berlaku bagi umat Muslim.


Kejadian Hancurnya WTC 9/11
Sumber: http://www.arrahmah.com/



Larangan Mendirikan Masjid (Salah Satu Bentuk Islamophobia)
Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Islamophobia



Bulan Terbelah di Langit Amerika 


Bulan Terbelah di Langit Amerika. Kisah yang disaksikan bulan dan dia menginginkan Tuhan membelah dirinya sekali lagi sebagai keajaiban.  Namun, bulan punya pendirian.  Ini untuk terakhir kalinya. Selanjutnya, jika dia bersujud kepada Tuhan agar dibelah lagi, itu bukan untuk keajaiban, melainkan agar dirinya berhenti menyaksikan pertikaian antarmanusia di dunia.

Tugas Hanum dan Rangga kali ini tidak mudah. Mereka akan “menyatukan” belahan bulan yang terpisah. Tugas mencari jawaban “Apakah dunia akan lebih baik tanpa Islam?”

Hanum mendapat tugas dari bos surat kabar tempatnya bekerja untuk untuk pergi ke New York dan membuat artikel tentang Tragedi 9/11 bertema “Would the world be better without Islam?”
Hanum mengalami kegalauan antara menerima atau menolak. Di satu sisi, dia tidak ingin menulis artikel itu karena dari judulnya saja membuat Hanum terprovokasi secara emosional. Tapi sisi lain hatinya bergejolak ingin membuktikan bahwa hal tersebut tidak benar. Akhirnya Hanum mengikuti kata hatinya. Dia mendapatkan daftar narasumber yang akan diwawancarai dan berencana mencari mereka walau tanpa petunjuk yang jelas. Rencana Allah di luar pemikiran manusia. Di saat yang sama atasan Rangga di universtas, Prof. Reinhard, menugaskan Rangga untuk menghadiri konferensi di Washington DC dan bertugas membujuk Phillipus Brown untuk menjadi pembicara di universitasnya.

Alhasil dengan mengemban tugas masing-masing, Hanum dan Rangga berangkat ke Amerika. Keduanya terpisah saat terjadi demonstrasi. Hanum terlunta di negara yang asing baginya. Beruntung dia bertemu dengan Julia Collins yang seorang mualaf. Azima Hussein menjadi nama wanita itu sejak dia memeluk Islam. Pertemuan dengan Azima membuka mata Hanum. Azima adalah janda dari seorang Muslim yang tewas dalam tragedi 9/11. Dari Azima, Hanum mendapat informasi mengenai misteri tragedi 9/11 yang merenggut kebahagiaan keluarga kecilnya. Dalam pencariannya mengumpulkan informasi, Hanum bertemu dengan Michael Jones, yang hatinya membatu sejak istri tercintanya, Anna, pergi selamanya pada hari 9/11 yang naas itu. Jones sangat membenci Muslim yang dianggapnya sebagai teroris yang telah membunuh istrinya

Rangga yang terpisah dengan Hanum akhirnya mengikuti konferensi dan berhasil berbicara dengan Phillipus Brown, seorang filantrofis yang sangat dermawan. Phillipus mengatakan lebih takut melihat harta yang tak kunjung habis dibandingkan dompet yang kosong. Phillipus telah mengalami kejadian yang mengubah hidupnya dan ingin memanfaatkan hidupnya dengan menolong banyak orang. Perbincangan dengan Phillipus membuka wawasan Rangga tentang memberi dan berbagi.

Bagaimana kelanjutan kisah dari keluarga korban 9/11? Sampai kapankan mereka menyimpan dendam dan kebenciaan akibat tragedi itu? Akankah Hanum dan Rangga berhasil melaksanakan tugas mereka dan “menyatukan” bulan yang terbelah? Penasaran bukan? Kupas tuntas rasa penasaran Anda dengan membaca buku ini.

Membaca duet Hanum dan Rangga kali ini terasa berbeda dengan karya sebelumnya (99 Cahaya di Langit Eropa). Gaya bahasa yang lebih mature dan deskripsi tentang Amerika terasa ‘nyata’. Tak hanya disuguhi dengan alur cerita yang apik, pembaca juga dimanjakan dengan gambaran tentang tempat-tempat bersejarah di Amerika dan pengetahuan akan simbol-simbol yang berkaitan dengan Islam. Penulis memaparkan fakta dari berbagai sumber dikombinasi dengan bumbu fiksi membuat cerita semakin menarik. Pembaca dibuat terhanyut dan seolah terlibat dalam setiap adegan dalam alur cerita. Ketegangan dan kelegaan akan silih berganti ketika menikmati alur cerita yang diselimuti dengan kejutan.

Dalam novel Bulan Terbelah di Langit Amerika, Hanum dan Rangga ingin mengajak pembaca untuk memaknai kehidupan Muslim di Amerika. Betapa kerasnya perjuangan mereka mempertahankan keimanan dan keislaman mereka walau dalam tekanan dan pandangan sinis dari warga non Muslim. Penulis secara apik menjalin kisah dari sisi humanisme tentang para korban hancurnya World Trade Center yang sangat menggenaskan itu dan menarik benang merah antar tokoh yang tidak saling mengenal serta mengungkap tabir misteri yang selama delapan tahun terkubur bersama puing-puing WTC. Kejadian 9/11 tidak hanya merenggut nyawa para korban ledakan tetapi juga merenggut kebahagiaan keluarga korban dan menimbulkan efek domino pada Muslim di Amerika.

Secara pribadi, saya belum bisa memaknai makna harfiah dari Bulan yang Terbelah di Langit Amerika. Dari hasil perenungan saya, terbelahnya bulan bukan mengacu pada fenomena fisik/alam, melainkan sebuah perumpamaan tentang dua sisi yang terbelah/terpisah. Tugas dari agen Muslim yang baik untuk menyatukan bulan yang terbelah itu menjadi utuh kembali.

Buku ini membuka wawasan pembaca agar memandang tragedi 9/11 bukan hanya dari satu kacamata melainkan secara luas. Atas tragedi tersebut, penulis tidak langsung ‘membela’ Muslim tapi juga mengajak pembaca untuk berpikir kritis tentang humanisme (hubungan antar umat manusia). Tidak semua orang Amerika memandang Muslim itu jahat. Semoga buku ini dapat diterbitkan edisi bahasa Inggris sehingga seluruh dunia dapat memiliki pandangan yang berbeda tentang Islam.


Æ      Judul: Bulan Terbelah di Langit Amerika
Æ      Penulis: Hanum Salsabiela & Rangga Almahendra
Æ      Ukuran : 13.5 x 20 cm
Æ      Tebal : 352 halaman
Æ      Terbit : Juni 2014
Æ      Cover : Softcover
Æ      Harga : Rp. 75.000,-
Æ      ISBN : 978-602-03-0545-5