“Would the world be better
without Islam?”
“My Name is Khan, and I’m not a terrorist!!! “
Kalimat
dari film My Name is Khan secara
otomatis muncul di benak saya saat membaca sinopsis Bulan Terbelah di Langit
Amerika. Apa hubungannya? Kejadian 11 September 2001 benar-benar mengubah
kehidupan umat Muslim di Amerika. Bagaimana tidak? Seluruh umat Muslim dicap
sebagai teroris, pesakitan yang harus dijauhi dan diasingkan, dan gejala Islamophobia lainnya (lebih lanjut baca http://en.wikipedia.org/wiki/Islamophobia). Ketatnya pemeriksaan di bandara,
penangkapan orang-orang dengan nama yang dicurigai sebagai teroris, dan
larangan untuk masuk ke negara Adidaya tersebut berlaku bagi umat Muslim.
Kejadian Hancurnya WTC 9/11
Sumber: http://www.arrahmah.com/
Larangan Mendirikan Masjid (Salah Satu Bentuk Islamophobia)
Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Islamophobia
Bulan Terbelah di Langit Amerika
Bulan Terbelah di Langit Amerika. Kisah yang
disaksikan bulan dan dia menginginkan Tuhan membelah dirinya sekali lagi
sebagai keajaiban. Namun, bulan punya
pendirian. Ini untuk terakhir kalinya.
Selanjutnya, jika dia bersujud kepada Tuhan agar dibelah lagi, itu bukan untuk
keajaiban, melainkan agar dirinya berhenti menyaksikan pertikaian antarmanusia
di dunia.
Tugas Hanum dan Rangga
kali ini tidak mudah. Mereka akan “menyatukan” belahan bulan yang terpisah.
Tugas mencari jawaban “Apakah dunia akan lebih baik tanpa Islam?”
Hanum
mendapat tugas dari bos surat kabar tempatnya bekerja untuk untuk pergi
ke New York dan membuat artikel tentang Tragedi 9/11
bertema “Would the
world be better without Islam?”
Hanum
mengalami kegalauan antara menerima atau menolak. Di satu sisi, dia tidak ingin
menulis artikel itu karena dari judulnya saja membuat Hanum terprovokasi secara
emosional. Tapi sisi lain hatinya bergejolak ingin membuktikan bahwa hal
tersebut tidak benar. Akhirnya Hanum mengikuti kata hatinya. Dia mendapatkan
daftar narasumber yang akan diwawancarai dan berencana mencari mereka walau tanpa
petunjuk yang jelas. Rencana Allah di luar pemikiran manusia. Di saat yang sama
atasan Rangga di universtas, Prof. Reinhard, menugaskan Rangga untuk menghadiri
konferensi di Washington DC dan bertugas membujuk Phillipus Brown untuk menjadi
pembicara di universitasnya.
Alhasil
dengan mengemban tugas masing-masing, Hanum dan Rangga berangkat ke Amerika. Keduanya
terpisah saat terjadi demonstrasi. Hanum terlunta di negara yang asing baginya.
Beruntung dia bertemu dengan Julia Collins yang seorang mualaf. Azima Hussein
menjadi nama wanita itu sejak dia memeluk Islam. Pertemuan dengan Azima membuka
mata Hanum. Azima adalah janda dari seorang Muslim yang tewas dalam tragedi
9/11. Dari Azima, Hanum mendapat informasi mengenai misteri tragedi 9/11 yang
merenggut kebahagiaan keluarga kecilnya. Dalam pencariannya mengumpulkan
informasi, Hanum bertemu dengan Michael Jones, yang hatinya membatu sejak istri
tercintanya, Anna, pergi selamanya pada hari 9/11 yang naas itu. Jones sangat
membenci Muslim yang dianggapnya sebagai teroris yang telah membunuh istrinya
Rangga yang
terpisah dengan Hanum akhirnya mengikuti konferensi dan berhasil berbicara
dengan Phillipus Brown, seorang filantrofis yang sangat dermawan. Phillipus
mengatakan lebih takut melihat harta yang tak kunjung habis dibandingkan dompet
yang kosong. Phillipus telah mengalami kejadian yang mengubah hidupnya dan
ingin memanfaatkan hidupnya dengan menolong banyak orang. Perbincangan dengan
Phillipus membuka wawasan Rangga tentang memberi dan berbagi.
Bagaimana kelanjutan kisah dari keluarga korban 9/11? Sampai kapankan mereka menyimpan dendam dan kebenciaan akibat tragedi itu? Akankah
Hanum dan Rangga berhasil melaksanakan tugas mereka dan “menyatukan” bulan yang
terbelah? Penasaran bukan? Kupas tuntas rasa penasaran Anda dengan membaca buku
ini.
Membaca
duet Hanum dan Rangga kali ini terasa berbeda dengan karya sebelumnya (99
Cahaya di Langit Eropa). Gaya bahasa yang lebih mature dan deskripsi tentang Amerika terasa ‘nyata’. Tak hanya
disuguhi dengan alur cerita yang apik, pembaca juga dimanjakan dengan gambaran
tentang tempat-tempat bersejarah di Amerika dan pengetahuan akan simbol-simbol
yang berkaitan dengan Islam. Penulis memaparkan fakta dari berbagai sumber
dikombinasi dengan bumbu fiksi membuat cerita semakin menarik. Pembaca dibuat
terhanyut dan seolah terlibat dalam setiap adegan dalam alur cerita. Ketegangan
dan kelegaan akan silih berganti ketika menikmati alur cerita yang diselimuti
dengan kejutan.
Dalam
novel Bulan Terbelah di Langit Amerika, Hanum dan Rangga ingin mengajak pembaca
untuk memaknai kehidupan Muslim di Amerika. Betapa kerasnya perjuangan mereka
mempertahankan keimanan dan keislaman mereka walau dalam tekanan dan pandangan
sinis dari warga non Muslim. Penulis secara apik menjalin kisah dari sisi
humanisme tentang para korban hancurnya World
Trade Center yang sangat menggenaskan itu dan menarik benang merah antar
tokoh yang tidak saling mengenal serta mengungkap tabir misteri yang selama
delapan tahun terkubur bersama puing-puing WTC. Kejadian 9/11 tidak hanya
merenggut nyawa para korban ledakan tetapi juga merenggut kebahagiaan keluarga
korban dan menimbulkan efek domino pada Muslim di Amerika.
Secara
pribadi, saya belum bisa memaknai makna harfiah dari Bulan yang Terbelah di
Langit Amerika. Dari hasil perenungan saya, terbelahnya bulan bukan mengacu pada fenomena
fisik/alam, melainkan sebuah perumpamaan tentang dua sisi yang
terbelah/terpisah. Tugas dari agen Muslim yang baik untuk menyatukan bulan yang
terbelah itu menjadi utuh kembali.
Buku ini
membuka wawasan pembaca agar memandang tragedi 9/11 bukan hanya dari satu
kacamata melainkan secara luas. Atas tragedi tersebut, penulis tidak langsung
‘membela’ Muslim tapi juga mengajak pembaca untuk berpikir kritis tentang
humanisme (hubungan antar umat manusia). Tidak semua orang Amerika memandang
Muslim itu jahat. Semoga buku ini dapat diterbitkan edisi bahasa Inggris
sehingga seluruh dunia dapat memiliki pandangan yang berbeda tentang Islam.
Æ Judul: Bulan Terbelah di Langit Amerika
Æ Penulis: Hanum
Salsabiela & Rangga Almahendra
Æ
Ukuran : 13.5 x 20 cm
Æ
Tebal : 352 halaman
Æ
Terbit : Juni 2014
Æ
Cover : Softcover
Æ
Harga :
Rp. 75.000,-
Æ ISBN : 978-602-03-0545-5


