Selasa, 30 Desember 2014

Review Finchickup: Financial Check Up for Ladies

 


  




“Kebebasan finansial bukan berarti kita harus menjadi super-duper-kaya macam Donal Trump, melainkan ketika aset investasi yang kita punya sudah bisa membiayai semua pengeluaran tanpa kita harus mengeluarkan keringat untuk bekerja sama sekali.”
(Halaman 227)


Kutipan itu secara tepat menghujam jantung saya (JLEBB!!). Saya jadi berpikir dan merenung apakah saya sudah sampai pada tahap itu?? Bertahun-tahun bekerja apakah aset investasi yang saya miliki bisa membiayai semua pengeluaran tanpa harus keluar keringat? Well, kita sering mendengar pakar ekonomi dan motivator mendengungkan istilah KEBEBASAN FINANSIAL. Apalagi kalau MLM sedang melakukan prospek dan pendekatan terhadap calon anggota baru, istilah kebebasan finansial menjadi iming-imingnya yaitu suatu kondisi seseorang yang sudah mencapai tahap kemapanan dimana dia dapat menikmati hidup dari investasinya tanpa harus membanting tulang dan jungkir balik (istilah kerennya orang bilang selonjoran kaki dan kipas-kipas doang sambil menikmati hidup).

Kita tak bisa memungkiri bahwa “Uang memang bukan segalanya, TAPI segala hal butuh uang”. Kebutuhan pokok seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal serta kesenangan (leisure) macam kendaraan, gadget (alat elektronik), bahkan liburan tentu segalanya butuh uang. Cara mendapat uang beraneka cara bisa dengan bekerja, berdagang, wirausaha, dan 1001 cara lainnya. Tapi bagaimana cara mengontrol uang agar tidak terbuang percuma dan nganggur tanpa ada hasil?

Nah, buku Finchickup bisa menjadi panduan bagi kita, khususnya kaum hawa yang suka “lapar mata” alias “kalap” saat berbelanja (shopaholic) agar lebih bijak dalam mengelola keuangan. Menurut financial planner dari Zeus Consulting, Farah Dini Novita, dalam bukunya Finchickup menulis bahwa walau harus bisa berhemat tapi tak sampai harus mengorbankan kesenangan kita. Tak apa jika sesekali meluangkan diri untuk windowshopping, hang out dengan teman, dan nongkrong di caffe. Penulis tak pelit berbagi ilmu tentang berbagai investasi yang dapat menambah aset kita plus tips and trick untuk memilih investasi yang sesuai dengan minat dan kemampuan finansial kita.

Finchickup: Financial Check Up for Ladies dibagi menjadi beberapa chapter yang mengenalkan, membahas, dan membedah cukup detail tentang seluk beluk keuangan. Mulai dari warming up alias pemanasan dulu tentang pengalaman keuangan penulis sendiri sampai dengan main course-nya yaitu beraneka macam investasi dengan segala kelebihan dan kendalanya. Bahasa yang santai dengan sedikit joke membuat pembaca tidak bosan dengan banyaknya perhitungan keuangan, istilah keuangan, dan angka-angka dengan jumlah nol yang cukup wah. Mari kita intip sekilas pandang isi Finchickup: Financial Check Up for Ladies yang terdiri dari 12 Bab.


Menilik aspek keuangan yang tak lepas dari perhitungan angka dan asumsi, penulis memfasilitasi pembaca dengan contoh kasus dan ilustrasi tabel perhitungan kredit atas aset, utang, dan investasi lengkap dengan jumlah angkanya. Menariknya dari buku ini tak hanya membahas hitung-hitungan yang njelimet tapi juga disertai dengan quotes alias kutipan-kutipan dari tokoh-tokoh yang berpengaruh dan ahli di bidang keuangan. Ulasan yang menarik pun memotivasi pembaca untuk lebih aware dan prepare dengan keuangannya.


Finchickup memberi warna baru dalam literarur non fiksi. Buku yang bermuatan informasi keuangan ini dikemas dengan gaya bahasa yang mudah dimengerti oleh kaum awam di bidang keuangan. Berbekal latar belakang financial planner, penulis tak hanya memberikan informasi keuangan dengan contoh kasus tapi juga  memotivasi pembaca untuk mencoba berinvestasi pada berbagai jenis investasi dan instrumen keuangan. 






Info Penulis

Farah Dini Novita adalah seorang perencana keuangan independen yang aktif menyebarkan ilmu perencanaan keuangan melalui social media seperti blog dan twitter. Dini, panggilan akrabnya juga seorang kontributor pada kolom Good Money di majalah Goodhouse Keeping dan pernah menulis artikel maupun diwawancara di beberapa media lainnya seperti Bisnis Indonesia, Cleo, Cita Cinta, Go Girl, Mom, Dad and I, Femina, Mom and Kiddie, Fem Detik, Kontan, Intisari, Wanita Indonesia, Koran Jakarta, dan lain sebagainya.
Dini menempuh pendidikan formal di bidang International Business Management sebagai mahasiswi S1 di The University of Nottingham Malaysia. Setelah menghabiskan 8 tahun di Malaysia, Dini kembali ke Indonesia dan mulai mendalami dunia investasi dan perencanaan keuangan dengan mengambil kelas di International Association Registered of Financial Consultants (IARFC) dan sampai saat ini masih terus mengembangkan kompetensi diri melalui berbagai sumber. Dini juga sudah mendapatkan sertifikat WAPERD dan mengikuti beberapa pelatihan seminar bisnis di dalam maupun luar negri.
Misi pribadi Dini adalah agar semua orang tidak hanya dari kalangan tertentu saja, dapat belajar dan membiasakan diri untuk berinvestasi sedini mungkin. Dengan berbagi ilmu, Dini berharap tingkat kepedulian masyarakat Indonesia terhadap pentingnya perencanaan keuangan pribadi maupun keluarga dapat meningkat. Dini juga ingin agar masyarakat menjadi lebih pintar dalam memilih produk investasi maupun asuransi sehingga tidak mudah membeli sesuatu yang tidak sesuai dan mungkin tidak dibutuhkan oleh individu tersebut.
Bulan May 2014, Dini telah menerbitkan sebuah buku berjudul FINCHICKUP : Financial Check Up for Ladies.

Selasa, 25 November 2014

LASKAR PELANGI, I'M COMING SOON!!!

Rutinitas dan kesibukan sehari-hari pasti tak jarang membuat diri jadi jemu, bosan bin boring, dan kehilangan semangat. Biasanya syndrome ini sering menyerang jomblo akut, pekerja kantoran stripping alias kejar deadline, mahasiswa yang skripsinya nggak kelar-kelar, dan wanita mendekati usia pohon natal (istilah untuk wanita 25th ke atas) yang sering ditanya kapan nikah (lho! curcol!). Tanda-tanda kena bored syndrome yaitu:
1. Lemah, letih, lesu, lemas, loyo, lungai (pokoknya nggak semangat melakukan aktivitas)
2. Jenuh sama kerjaan yang nggak ada habisnya
3. Sibuk setiap 2 menit *stalking* dan *kepo-ing* Timeline, Instagram, Path temen yang lagi liburan
4. Keki berat lihat temen yang lagi liburan
5. daaannn sering kebawa mimpi pergi liburan

Nah, kalau tanda-tanda itu sudah muncul maka WASPADALAHHH!! (Pesan Bang Napi!!)
Itu tandanya Anda butuh liburan alias travelling alias walking-walking (lha!)

Berhubung saya salah seorang yang sedang terserang Bored Syndrome maka teman sejati yang selalu kucari dan kunanti adalah TRAVELOKA. Buat yang belum tahu (rada kudet), Traveloka itu website untuk mencari dan memesan tiket pesawat dan hotel secara online dengan "harga jujur, bikin makmur". Lha apa pula maksudnya? Traveloka itu nggak ada niatan tersembunyi, jadi sedari awal sudah mencantumkan harga bayar yang fixed (udah termasuk pajak dan lain-lain, no addition fare!). Pokoknya, Traveloka adalah sahabat sejati para pecinta travelling termasuk SAYA :)

Sekedar informasi, hobi saya adalah travelling (penting banget ya!). Destinasi wisata favorit nggak muluk-muluk, di dalam negeri saja yang penting ada pantainya because I'm Beach Lover (efek kebanyakan nonton Baywatch *uhuk*). Alasan lain saya suka pantai karena saya lahir di Pangkal Pinang, surganya pantai! Buanyak banget pantai di Bangka ini. Tapi berhubung sudah belasan tahun saya pindah ke kota yang nggak ada pantainya jadi rasa kangen itu selalu ada. 

Awal tahun 2014, Traveloka sudah membantu saya mendapat tiket murah untuk travelling ke salah satu kota dengan pantai-pantai eksotis. Saat melihat pasir pantai yang berkilauan dan bule-bule yang berseliweran, saya tak bisa menahan diri untuk tidak berfoto. Apalagi foto di pantai saat sunset itu adalah momen yang tak boleh terlewatkan untuk diabadikan.



Suasana eksotis bin romantis Jimbaran

Tahun 2014 sudah hampir berganti. Akhir tahun benar-benar momen yang pas untuk melepas penat. Andai saja saya bisa mewujudkan liburan akhir tahun yang indah. Destinasi impian yang selalu terbawa mimpi adalah Pulai Belitung, pulaunya Laskar Pelangi. Sejak membaca karya fenomenal Andera Hirata dan menonton filmnya, bayangan keindahan pantai dan karang di Belitung selalu terbayang. 


Walau lahir dan besar di Bangka (Pangkal Pinang), saya belum pernah sekalipun ke Belitung padahal jaraknya tidak begitu jauh. Alhamdulillah setelah dicek di Traveloka ternyata ada rute Sriwijaya Air ke Pangkal Pinang, dari Pangkal Pinang bisa nyebrang ke Belitung naik feri. Dengan modus pulang kampung, ingin sekali rasanya mengajak keluarga (mama, papa, dan adik-adik) berlibur dan menikmati keindahan Bangka dan Belitung. Sekali naik pesawat, Bangka dan Belitung terkunjungi (hahaha).

Selain ingin melihat lokasi syuting film Laskar Pelangi, saya juga sangat ingin mengunjungi Pantai Tanjung Tinggi, Pantai Tanjung Kelayang, Pantai Penyabong, Pantai Burung Mandi, dan terutama Pulau Lengkoas. Pulau Lengkoas adalah sebuah pulau kecil di sekeliling Pulau Belitung dengan mercusuar delapan belas tingkat!! Di sekitar pulau banyak batuan besar dan unik. Pantai dengan pasir putih dan air yang jernih benar-benar cocok untuk snorkeling. Benar-benar tak sabar rasanya untuk segera menikmati keindahan Pulau Lengkoas ini :D


13820204432007245874

138202059943328677

Sudah pasti selain wisata keindahan alam, wisata kuliner tak kalah penting. Makanan laut (seafood) pasti jadi sasaran pertama, mau juga nyobain Mie Belitung yang terkenal (Mie Atep). Yang pasti bakal dibawa sebagai oleh-oleh dari Bangka dan Belitung adalah makanan khas (kerupuk, getas, siput gunggung) dan hasil kerajinan tangan khas Belitung yang bisa dibeli di Galeri UMKM. Tapi ada juga souvenir yang personal buat sahabat yaitu bintang laut dan kerang pantai yang dicari sendiri (hehehe.. ini mah ekonomis alias pelit ya :p).

Buat menambah referensi, saya mencari itinerary wisata Bangka dan Belitung untuk 4 hari-3 malam

ITINERARY Bangka Belitung Tour (4D/3N)

HARI ke 1 :
Setibanya di Bandara Depati Amir Pangkalpinang, Bangka, Anda langsung kami ajak untuk tour ke Kota Sungailiat. Selama perjalanan ke Sungailiat, kita akan melewati Jembatan Baturusa, Kelenteng China kuno dan komplek Pemda kab. Bangka.
Sampai di Sungailiat Anda akan menikmati Pantai Tanjung Pesona, keindahan Pantai Parai Tenggiri, putihnya pasir Pantai Matras, dan Pemandian air panas Pemali. Makan malam di local restaurant. Selanjutnya kita akan ke hotel untuk check in.


HARI ke 2 :
Setelah santap pagi di hotel dan check out kita akan menuju Pangkalpinang untuk berbelanja oleh–oleh makanan khas Bangka, mengunjungi galeri Batik Cual Ishadi, Museum Timah Indonesia. Selanjutnya makan siang di restaurant seafood Pantai Pasir Padi. Setelah santap siang dan menikmati keindahan pantai Pasir Padi, kita akan mengunjungi kawasan agrowisata Bangka Botanical Garden. Sampai pada waktunya Anda akan diantar ke pelabuhan untuk untuk menikmati pelayaran ke pulau Belitung. Pelayaran ini memerlukan waktu sekitar 4-5 Jam.

Setibanya di Belitung, Anda langsung disambut untuk kemudian diantar untuk dinner, dan check in hotel untuk istirahat.
HARI ke 3:
Sarapan dan persiapan untuk perjalanan ke pulau-pulau; pulau Tanjung Kelayang, ke pulau Gusong (pulau pasir) snorkeling, berenang, kemudian ke pulau Lengkuas, dan pulau Burung. Makan siang, kemudian menjelajahi pulau Burung, berenang, dan snorkeling. Selanjutnya kembali ke Tanjung Kelayang. Menikmati Sunset dari Tg Pendam, makan malam, dan kembali ke Hotel untuk istirahat.

HARI ke 4:
Sarapan, Check out Hotel, city tour untuk belanja oleh-oleh dan souvenir khas Belitung, Transfer out Bandara.

Sumber: http://bangkatour.com/bangka-belitung-tour/#sthash.4ZDp3bIy.dpuf

Bagaimana? Sudah siap untuk liburan??

Pantai dengan air yang jernih, karang yang perkasa, dan makanan laut lezat sering memanggil-manggil saya dalam mimpi. Akankah mimpi itu jadi nyata? TRAVELOKA bantulah saya mewujudkan impian. Terima kasih TRAVELOKA :)


Tulisan ini diikutsertakan untuk Kontes Blogging Berhadiah
#TiketGratisTraveloka


tiket gratis kontes blog1 Kontes Blogging Berhadiah #TiketGratisTraveloka

Jumat, 26 September 2014

Resensi Bulan Terbelah di Langit Amerika (Hanum Salsabiela & Rangga Almahendra)



Would the world be better without Islam?”


“My  Name is Khan, and I’m not a terrorist!!! “

Kalimat dari film My Name is Khan secara otomatis muncul di benak saya saat membaca sinopsis Bulan Terbelah di Langit Amerika. Apa hubungannya? Kejadian 11 September 2001 benar-benar mengubah kehidupan umat Muslim di Amerika. Bagaimana tidak? Seluruh umat Muslim dicap sebagai teroris, pesakitan yang harus dijauhi dan diasingkan, dan gejala Islamophobia lainnya (lebih lanjut baca http://en.wikipedia.org/wiki/Islamophobia). Ketatnya pemeriksaan di bandara, penangkapan orang-orang dengan nama yang dicurigai sebagai teroris, dan larangan untuk masuk ke negara Adidaya tersebut berlaku bagi umat Muslim.


Kejadian Hancurnya WTC 9/11
Sumber: http://www.arrahmah.com/



Larangan Mendirikan Masjid (Salah Satu Bentuk Islamophobia)
Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Islamophobia



Bulan Terbelah di Langit Amerika 


Bulan Terbelah di Langit Amerika. Kisah yang disaksikan bulan dan dia menginginkan Tuhan membelah dirinya sekali lagi sebagai keajaiban.  Namun, bulan punya pendirian.  Ini untuk terakhir kalinya. Selanjutnya, jika dia bersujud kepada Tuhan agar dibelah lagi, itu bukan untuk keajaiban, melainkan agar dirinya berhenti menyaksikan pertikaian antarmanusia di dunia.

Tugas Hanum dan Rangga kali ini tidak mudah. Mereka akan “menyatukan” belahan bulan yang terpisah. Tugas mencari jawaban “Apakah dunia akan lebih baik tanpa Islam?”

Hanum mendapat tugas dari bos surat kabar tempatnya bekerja untuk untuk pergi ke New York dan membuat artikel tentang Tragedi 9/11 bertema “Would the world be better without Islam?”
Hanum mengalami kegalauan antara menerima atau menolak. Di satu sisi, dia tidak ingin menulis artikel itu karena dari judulnya saja membuat Hanum terprovokasi secara emosional. Tapi sisi lain hatinya bergejolak ingin membuktikan bahwa hal tersebut tidak benar. Akhirnya Hanum mengikuti kata hatinya. Dia mendapatkan daftar narasumber yang akan diwawancarai dan berencana mencari mereka walau tanpa petunjuk yang jelas. Rencana Allah di luar pemikiran manusia. Di saat yang sama atasan Rangga di universtas, Prof. Reinhard, menugaskan Rangga untuk menghadiri konferensi di Washington DC dan bertugas membujuk Phillipus Brown untuk menjadi pembicara di universitasnya.

Alhasil dengan mengemban tugas masing-masing, Hanum dan Rangga berangkat ke Amerika. Keduanya terpisah saat terjadi demonstrasi. Hanum terlunta di negara yang asing baginya. Beruntung dia bertemu dengan Julia Collins yang seorang mualaf. Azima Hussein menjadi nama wanita itu sejak dia memeluk Islam. Pertemuan dengan Azima membuka mata Hanum. Azima adalah janda dari seorang Muslim yang tewas dalam tragedi 9/11. Dari Azima, Hanum mendapat informasi mengenai misteri tragedi 9/11 yang merenggut kebahagiaan keluarga kecilnya. Dalam pencariannya mengumpulkan informasi, Hanum bertemu dengan Michael Jones, yang hatinya membatu sejak istri tercintanya, Anna, pergi selamanya pada hari 9/11 yang naas itu. Jones sangat membenci Muslim yang dianggapnya sebagai teroris yang telah membunuh istrinya

Rangga yang terpisah dengan Hanum akhirnya mengikuti konferensi dan berhasil berbicara dengan Phillipus Brown, seorang filantrofis yang sangat dermawan. Phillipus mengatakan lebih takut melihat harta yang tak kunjung habis dibandingkan dompet yang kosong. Phillipus telah mengalami kejadian yang mengubah hidupnya dan ingin memanfaatkan hidupnya dengan menolong banyak orang. Perbincangan dengan Phillipus membuka wawasan Rangga tentang memberi dan berbagi.

Bagaimana kelanjutan kisah dari keluarga korban 9/11? Sampai kapankan mereka menyimpan dendam dan kebenciaan akibat tragedi itu? Akankah Hanum dan Rangga berhasil melaksanakan tugas mereka dan “menyatukan” bulan yang terbelah? Penasaran bukan? Kupas tuntas rasa penasaran Anda dengan membaca buku ini.

Membaca duet Hanum dan Rangga kali ini terasa berbeda dengan karya sebelumnya (99 Cahaya di Langit Eropa). Gaya bahasa yang lebih mature dan deskripsi tentang Amerika terasa ‘nyata’. Tak hanya disuguhi dengan alur cerita yang apik, pembaca juga dimanjakan dengan gambaran tentang tempat-tempat bersejarah di Amerika dan pengetahuan akan simbol-simbol yang berkaitan dengan Islam. Penulis memaparkan fakta dari berbagai sumber dikombinasi dengan bumbu fiksi membuat cerita semakin menarik. Pembaca dibuat terhanyut dan seolah terlibat dalam setiap adegan dalam alur cerita. Ketegangan dan kelegaan akan silih berganti ketika menikmati alur cerita yang diselimuti dengan kejutan.

Dalam novel Bulan Terbelah di Langit Amerika, Hanum dan Rangga ingin mengajak pembaca untuk memaknai kehidupan Muslim di Amerika. Betapa kerasnya perjuangan mereka mempertahankan keimanan dan keislaman mereka walau dalam tekanan dan pandangan sinis dari warga non Muslim. Penulis secara apik menjalin kisah dari sisi humanisme tentang para korban hancurnya World Trade Center yang sangat menggenaskan itu dan menarik benang merah antar tokoh yang tidak saling mengenal serta mengungkap tabir misteri yang selama delapan tahun terkubur bersama puing-puing WTC. Kejadian 9/11 tidak hanya merenggut nyawa para korban ledakan tetapi juga merenggut kebahagiaan keluarga korban dan menimbulkan efek domino pada Muslim di Amerika.

Secara pribadi, saya belum bisa memaknai makna harfiah dari Bulan yang Terbelah di Langit Amerika. Dari hasil perenungan saya, terbelahnya bulan bukan mengacu pada fenomena fisik/alam, melainkan sebuah perumpamaan tentang dua sisi yang terbelah/terpisah. Tugas dari agen Muslim yang baik untuk menyatukan bulan yang terbelah itu menjadi utuh kembali.

Buku ini membuka wawasan pembaca agar memandang tragedi 9/11 bukan hanya dari satu kacamata melainkan secara luas. Atas tragedi tersebut, penulis tidak langsung ‘membela’ Muslim tapi juga mengajak pembaca untuk berpikir kritis tentang humanisme (hubungan antar umat manusia). Tidak semua orang Amerika memandang Muslim itu jahat. Semoga buku ini dapat diterbitkan edisi bahasa Inggris sehingga seluruh dunia dapat memiliki pandangan yang berbeda tentang Islam.


Æ      Judul: Bulan Terbelah di Langit Amerika
Æ      Penulis: Hanum Salsabiela & Rangga Almahendra
Æ      Ukuran : 13.5 x 20 cm
Æ      Tebal : 352 halaman
Æ      Terbit : Juni 2014
Æ      Cover : Softcover
Æ      Harga : Rp. 75.000,-
Æ      ISBN : 978-602-03-0545-5