Cinta di Tanah Haraam,
Novel Perdana Karya
Nucke Rahma
Khumairah seorang muslimah dengan pesona kecantikan yang nyaris sempurna. Dia
percaya pada kekuatan cinta. Baginya, cinta adalah memberi. Pengabdian tanpa
batas yang tak bisa dibayar dengan janji. Pada kenyataannya, cinta bagaikan
pisau bermata dua. Cinta memberinya kebahagiaan sekaligus sayatan penuh luka.
Di
bawah langit Makkah, dalam rangkaian Ibadah Suci Haji, sebuah rahasia gelap
terungkap.
Khumairah
dihadapkan pada fakta pengkhianatan suaminya, hingga ia terpasung dalam
permainan cinta segitiga. Namun ia memilih berdamai dengan dusta yang
diciptakan Zidan, suaminya. Ia tak ingin tersesat dalam cinta yang penuh
dendam. Keyakinan pada takdir mengajari Khumairah untuk memaafkan.
Bagaimanapun, Zidan adalah alasannya untuk hidup,
walau dalam luka ia menjerit.
walau dalam luka ia menjerit.
Mengapa
cinta harus mendua? Serendah itukah harga kesetiaan? Atau begitukah nasib
seorang istri, tercampakkan ketika pesona mulai pudar?
Ada
saat dimana Khumairah pernah begitu yakin cinta akan merengkuhnya ketika diri
terjatuh dan mengobatinya saat hati terluka. Khumairah bahkan pernah berharap
akan dicintai dengan tulus, setelah semua pengorbanan yang diakukannya. Baginya
cinta itu abadi dan tak lekang tergerus waktu.
Namun
ternyata tidak ada kata ‘selamanya’ dalam cinta.
Sekuat
apapun dia menjaganya, menyemainya, memupuknya, dan memujanya setinggi bintang
di langit, Khumairah tetap tak mampu bersaing dengan pesona cinta yang baru.
Sebuah sensasi permainan rasa yang mampu mengobarkan api asmara dan membangkitkan
nafsu terlarang.
Khumairah
terhenyak oleh kenyataan pahit tentang cinta. Betapa cinta begitu menyiksa.
Cinta
bagaikan pisau bermata dua. Cinta mampu memberinya harapan sekaligus kecewa.
Yang tersisa cuma air mata dan sayatan penuh luka.
Pada
akhirnya, dendam dan sakit hati akan menjadi jejak kepergian sebuah cinta.
---
Membuat Khumairah tersenyum adalah kemenangan
terbesar yang pernah Gibran raih sepanjang hidupnya. Keyakinan bahwa Khumairah
akan menjadi miliknya semakin hari kian kuat tertanam di hati laki-laki itu. Namun
Khumairah tak kunjung memberikan jawaban, meski Gibran semakin berharap. Gibran
menyayangi Khumairah. Melebihi cinta itu sendiri. Ia pasti akan berjuang mendapatkannya.
Dan kemunculan Zidan kembali di hadapan Khumairah
tak akan membuatnya tinggal diam!
Apa yang terjadi?
---
Aku pernah
mempersembahkan seluruh hidupku untuknya. Jiwaku terpatri dalam sebuah ikatan
yang sakral. Lalu dia mendua. Namun, aku tetap dalam penghambaan seorang istri.
Berharap dia akan menyadari perbuatannya. Tapi dia malah membuatku tersingkir.
Atas nama
cinta, aku tetap memberinya ikhlas.
Dan
sekarang tiba-tiba saja dia muncul. Setelah daya upayaku mengobati luka
perceraian.
Apa
sebetulnya yang dia harapkan dari pertemuan ini? Sedangkan sudah tidak ada lagi
yang bisa aku persembahkan untuknya?
Tolonglah
aku, ya Rabb. Jangan Kau biarkan aku mengambil keputusan yang salah akibat
cinta yang belum tersapu bersih di hati ini...
~Khumairah~
Seandainya saja saya menjadi Khumairah tentu
tidak mudah untuk menentukan apakah saya akan kembali pada Zidan atau menerima
cinta Gibran. Di satu sisi saya merasa Zidan pernah menjadi sosok suami yang
sangat saya cintai dan saya berharap hanya ada satu cinta dan satu perkawinan
dalam hidup saya. Namun sebagai seorang istri saya sudah berusaha untuk
mempertahankan rumah tangga ini. Jika Zidan sebagai suami sudah tidak
menginginkan saya, bagaimana bisa saya tetap melanjutkan pernikahan ini. Walau
pada akhirnya dia ingin kembali bisakah saya memaafkan atas segala perbuatannya
kepada saya? Masihkan ada rasa cinta saya untuknya?
Sisi lain hati saya sangat tersentuh dengan
ketulusan dan kebaikan Gibran. Dia adalah lelaki yang santun dan lembut. Segala
upaya dilakukan untk mebuat saya bahagia. Saya tidak dapat memungkiri bahwa
kebaikannya itu sedikit demi sedikit mampu mengobati luka hati saya. Tapi
apakah saya layak menerima cintanya? Seorang wanita yang pernah gagal membangun
rumah tangga apakah bisa membahagiakan lelaki lain?
Di tengah kebingungan dan keraguan dalam hati, saya
memohon Allah SWT memberikan jawaban yang tepat dan keputusan yang benar serta
tidak akan saya sesali. Saya berserah diri, menyerahkan segalanya kepada
Penguasa Semesta Alam yang telah menuliskan semua hal dalam Lauh Mahfuzh. Istikharah
dan tawakal, Insya Allah akan ada jawaban atas segala keraguan yang terus
membelenggu hati saya. Aamiin ya rabbalalamin..
Tulisan ini diikutsertakan dalam #GAnovelCdTH
Tentang Penulis
Nucke Rachma is Indonesian MEGA HITS WRITER for TV Series, Stripping, FTV (Film Television) and Movie Writer.
















