ALLY—ALL
THESE LIVES
oleh
Arleen A
GM
401 01 15 0001
Diterbitkan
pertama kali oleh
Penerbit
PT Gramedia Pustaka Utama
anggota
IKAPI, Jakarta, 2014
www.gramediapustakautama.com
Editor:
Dini Novita Sari
Desain
sampul: Iwan Mangopang
ISBN
978 - 602 - 03 - 0884 - 5
264 hlm; 20 cm
Awal tahun 2015 saya mendapat tantangan untuk menjadi First Chapters Commentator untuk buku Ally - All These Lives dari Gramedia Pustaka Utama. Pertama saya ucapkan terima kasih kepada Arleen yang telah memberikan
kesempatan pada saya untuk membaca first chapters (Bab 1 dan 2) Buku “Ally - All These Lives”
sebelum buku ini launching. Membaca dua bab awal buku ini benar-benar
memberikan sebuah pengalaman yang menarik, unik, dan membuat saya penasaran
untuk membaca kelanjutannya. Setiap untaian kata mengandung magnet yang menarik saya untuk masuk ke dalam cerita. Kejutan demi kejutan terselip dalam kisahnya.
Bukan bermaksud spoiler, tapi saya ingin
mengomentari dua bab awal buku ini. Buku ini mengisahkan tentang seorang gadis
bernama Ally. Kisah dimulai dengan menceritakan saat Ally berusia sepuluh tahun. Kehidupan
masa kecil Ally layaknya rutinitas gadis biasa yang dilalui dengan sekolah dan bermain. Biasa saja.. Sampai suatu hari terjadi suatu hal yang mengusik 'ketenteraman hati' Ally. Kejadian
aneh itu terjadi saat matahari bersinar indah pada Jumat siang. Ally duduk di dapur
sedang berbicara pada mamanya. Mama sedang mengeluarkan seloyang kue kering
cokelat dari dalam oven. Tiba-tiba, sensasi menggelitik seperti kesemutan
muncul. Namun tidak ada semut di sana. Tidak ada apa-apa juga di sana. Dan
secara tiba-tiba saja... semuanya hilang.
Tidak ada kegelapan,
tapi Ally tidak bisa merasakan apa-apa. Seperti berada di ruang hampa udara. Tak lama
saat dia tersadar kembali dia menemukan tidak ada yang berubah. Keadaan sekelilingnya
tidak berbeda seperti saat sebelum segalanya hilang. Hanya satu hal yang tidak dikenalinya. Muncul di hadapannya seseorang yang seolah memang sejak lama menjadi bagian dari keluarga mereka.
Mama bilang bocah berambut merah di hadapan Ally adalah adiknya. Ally
terbelalak tidak percaya. Selama lima tahun ini dia adalah anak tunggal kenapa
mama tiba-tiba mengatakan bahwa Albert adalah adiknya.
Di tengah kebingungannya
Ally mencoba memahami dan menerima keadaan yang masih membingungkannya.
Waktu terus bergulir, Ally sudah lebih dewasa. Dia sudah SMA sekarang. Di saat
Ally sudah bisa menerima keberadaan Albert, tiba-tiba 'serangan' itu terjadi
lagi. Ally sedang duduk di sofa memangku laptop saat semuanya tiba-tiba hilang.
Dan saat dia kembali lagi tidak ada yang berubah di sekitarnya. Hanya saja Ally
kembali mendengar hal yang sangat mengejutkan dari mamanya. Sesuatu tentang Albert yang tidak pernah diharapkannya...
Temukan jawabannya dalam Ally - All These
Lives!!
Dua bab awal buku
ini sudah sangat memancing rasa ingin tahu saya apa yang sebenarnya terjadi
pada Ally. Berbagai spekulasi muncul di benak saya, mulai dari dugaan unsur
mistis, sciene fiction (seperti kisah-kisah yang sedang tren sekarang), time traveler, imaginasi atau halusinasi Ally, ataukah gangguan kejiwaan.
Atau sebenarnya lebih dari itu? Sesuatu yang disembunyikan penulis yang hanya akan terjawab saat kita membaca bukunya secara lengkap. Daripada hanya menerka dan menduga-duga saya ingin membaca buku ini secara utuh. Arleen
tolong pilih saya ya untuk menjadi pembaca pertama buku ini :D

Tidak ada komentar:
Posting Komentar