Minggu, 25 Januari 2015





The Silkworm – Misteri Bombyx Mori



Judul Buku: The Silkworm (Ulat Sutra)
Penulis: Robert Galbraith a.k.a. J.K. Rowling
Penerjemah: Siska Yunita & M. Aan Mansyur (kutipan)
Penyunting: Tim Editor Qanita
ISBN: 978-602-03-0981-1
Cetakan I, Oktober 2014
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 536 hal
Harga: Rp. 119.000
Kategori: Dewasa, Misteri, Thriller



Cormoran Strike, seorang detektif partikelir yang sukses memecahkan kasus misteri kematian supermodel Lula Landry (kasus pada novel pertama Galbraith, The Cuckoo’s Calling) mulai naik daun dan mendapat banyak permintaan penyelidikan dari klien. Meski kebanyakan kasus yang diminta klien terkait kasus rumah tangga (menyelidiki suami yang diduga berselingkuh) tidak menyurutkan Strike untuk menerimanya (lagi-lagi karena tuntutan ekonomi seperti menyewa flat, membayar hutang, membeli perabot, dan membayar asistennya, Robbin Ellacott.)

Strike cukup tergugah ketika suatu hari datang seorang wanita bernama Leonora yang nampak frustasi karena suaminya sudah beberapa hari menghilang. Owen Quine, seorang novelis yang tidak terkenal mendadak hilang dan tidak ada kabar beritanya. Sebagai istri, Leonora panik dan meminta Strike untuk menemukan suaminya. Leonora merasa mengetahui dimana keberadaan suaminya tapi dia merasa sulit untuk membawa suaminya kembali. Insting detektif Strike berbicara, dia antusias menerima permintaan kliennya walau dia tahu mungkin Leonora tidak bisa membayar jasanya. Akhirnya Strike memulai pencarian dengan menelusuri latar belakang Owen.

Ternyata Owen adalah seorang penulis yang suka mencari sensasi. Semula Strike mengira Owen sengaja menghilang untuk membuat kehebohan. Namun tanpa dinyana, Owen ditemukan di rumah peninggalan sahabatnya dalam keadaan tanpa nyawa dan kondisi yang sangaaat mengenaskan (saya bergidik ngeri membayangkan saat pertama kali Strike menemukan Owen yang…. Ah, sudahlah jangan dibayangkan! Sick! Mual!!). Firasat Strike terbukti, kasus ini tidak sesederhana yang nampak. Usut punya usut, Owen sebelum meninggal menulis novel Bombyx mori (nama latin dari ulat sutera- The Silkworm) yaitu novel yang menceritakan aib dan keburukan orang-orang di sekitarnya dengan bahasa yang vulgar dan menjijikan. Tak heran banyak orang yang ingin membunuhnya. Bahkan istrinya sendiri juga termasuk sebagai salah seorang yang ‘di­-bully’ Owen di novelnya dengan membeberkan aibnya. Strike terus menggali orang-orang yang dekat dengan Owen. Owen bersahabat baik dengan Joe North dan Michael Fancourt. Mereka adalah penulis yang berada dalam naungan satu agensi. Nasib buruk menimpa Joe North yang meninggal karena sakit. Tak disangka rumah peninggalan Joe untuk para sahabatnya malah menjadi saksi bisu kematian Owen. 

Strike dibantu Robbin mencari bukti-bukti yang mengarah kepada para tersangka dan apa motif pembunuhnya. Sementara bukti mengarah pada Leonora sebagai pelaku, Strike malah percaya bahwa Leonora tidak bersalah. Apakah insting detektif Strike kali ini benar-benar bekerja? Atau dirinya tertipu dengan ketidakberdayaan Leonora? Penasaran bukan?? Saya saja sampai tidak berani meletakkan novel ini saat membacanya karena takut dihantui rasa penasaran.

Kombinasi Strike dan Robin mengingatkan saya pada kerjasama Sherlock Holmes dan asistennya Watson. Saya pernah menonton film The Bullet Vanishes yang menceritakan kerjasama antara Son Donglu (detektif) dengan Xiaowu (seorang polisi) yang menginvestigasi misteri kematian di sebuah pabrik peluru. Film itu pun memiliki nuansa detektif yang sama dengan Sherlock dan Watson (buat yang penasaran boleh lihat di sini). Hubungan Strike dan Robin cukup rumit dan ada chemistry di antara mereka walau mereka masing-masing sudah ada pasangannya. Suatu hari nanti, seperti Harry Potter kemungkinan besar serial detektif Cormoran Strike ini berpotensi diangkat ke layar lebar. Saya sudah bisa membayangkan tokoh yang cocok untuk memerankan Strike yaitu Hugh Jackman dengan tubuh berbulunya itu lho, didandani dan dimodifikasi dengan kaki satu pastinya pas untuk memerankan lelaki tua setengah depresi tapi berkarakter kuat sebagai detektif. Karakter Robin yang cerdas dan cekatan dengan strawberry blonde hair sangat cocok diperankan oleh Anne Hathaway. Jadi teringat lagi saat mereka berkolaborasi dalam Les Miserables.



 

Robert Galbraith. Siapa sih beliau? Namanya cukup asing di dunia novel detektif yang didominasi Sir Atrhur Conan Doyle dan Agatha Christie. Namun ternyata sepak terjang Galbraith di dunia literasi sangat fenomenal sebagai J.K.Rowling (penulis serial Harry Potter yang sangat mendunia). Cukup mengherankan Rowling muncul dengan nama yang berbeda mengingat ketenarannya sudah cukup untuk mempromosikan novel detektifnya ini. Ternyata sebagai Galbraith, beliau kembali mereguk kesuksesan dengan The Cuckoo’s Calling (Dekut Burung Kukuk) dan The Silkworm (Ulat Sutera). Kemampuan Galbraith mengaduk-aduk dan mempermainkan perasaan pembaca sangat mumpuni.

Secara keseluruhan, novel ini sangat layak mendapat bintang lima. Kenapa? Pertama, alur cerita yang terlihat mudah ditebak ternyata menipu artinya pembaca bisa dibuat penasaran dan punya persepsi sendiri. Kedua, tokoh-tokoh dideskripsi secara detail sehingga pembaca bisa membayangkan dan ‘larut’ dalam cerita. Ketiga, edisi terjemahan bahasa Indonesia oleh Siska Yunita & kutipan oleh M. Aan Mansyur ini bebas dari typo dan nyaman dibaca. Harga buku ini walau sedikit mahal tapi sepadan dengan isinya yang luar biasa. Two thumbs up for Galbraith :D


Tidak ada komentar:

Posting Komentar